WhatsApp Image 2026 09 15 at 15.23.53

Politeknik Ketenagakerjaan Gelar Kick Off Meeting Program Kerja 2026–2030, Perkuat Integrasi dan Tata Kelola Institusi

Jakarta (12/09) – Politeknik Ketenagakerjaan menyelenggarakan Kick Off Meeting Program Kerja Politeknik Ketenagakerjaan Tahun 2026–2030 pada Jumat-Sabtu, 11-12 September 2026. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menyusun dan menyelaraskan arah program kerja institusi untuk lima tahun ke depan, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan perguruan tinggi vokasi yang mampu menjawab kebutuhan dunia ketenagakerjaan yang terus berkembang.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Prof. Dr. Ahman Sya, M.Pd., M.Sc. selaku narasumber, Direktur, Wakil Direktur I, II, dan III, Ketua dan Sekretaris Program Studi Relasi Industri (RI), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), Kepala Subbagian AAKK, Kepala Subbagian Umum dan Keuangan, Kepala Satuan Penjamin Mutu, Satuan Pengawas Internal, Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, serta Kepala Unit Penunjang.

Dalam sambutannya, Direktur Politeknik Ketenagakerjaan menegaskan bahwa periode 2026–2030 bukan sekadar pelaksanaan rutinitas program kerja, melainkan momentum strategis untuk meletakkan fondasi pengembangan institusi. Oleh karena itu, penyusunan program kerja perlu berorientasi pada dampak, hasil, dan manfaat yang dapat dirasakan oleh institusi, mahasiswa, dunia kerja, serta masyarakat.

“Program kerja yang kita susun tidak boleh hanya berorientasi pada terlaksananya kegiatan. Kita harus mulai bergeser pada cara berpikir yang lebih strategis: apa dampaknya, apa hasilnya, apa manfaatnya bagi institusi, mahasiswa, dunia kerja, dan masyarakat,” tegas Direktur dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Direktur menekankan tiga prinsip utama yang harus menjadi landasan dalam penyusunan dan pelaksanaan program kerja Politeknik Ketenagakerjaan, yaitu integrasi, keterukuran, dan keberlanjutan.

Prinsip integrasi menekankan pentingnya keterhubungan ant program agar seluruh unit dapat bergerak selaras dalam mendukung sasaran strategis institusi. Sementara itu, keterukuran mengharuskan setiap program memiliki target, indikator, waktu pelaksanaan, serta ukuran keberhasilan yang jelas. Adapun keberlanjutan diarahkan agar setiap program memberikan manfaat jangka panjang dan dapat dikembangkan untuk mendukung kemajuan institusi.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur juga mendorong seluruh jajaran Politeknik Ketenagakerjaan untuk membangun budaya kerja yang semakin kolaboratif, adaptif, inovatif, dan berorientasi pada hasil. Setiap unit diharapkan mampu memahami kontribusinya terhadap tujuan besar institusi serta terbuka untuk memperkuat, mengintegrasikan, dan mengevaluasi program kerja agar semakin efektif dan berdampak.

“Jika ada program yang perlu diperkuat, kita perkuat. Jika ada program yang tumpang tindih, kita integrasikan. Jika ada program yang belum memberikan dampak yang jelas, kita evaluasi kembali,” ujar Direktur.

Program kerja tahun 2026–2030 diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan, tetapi menjadi komitmen bersama dan pedoman dalam pelaksanaan tugas. Untuk itu, setiap program yang telah disepakati perlu dilaksanakan secara konsisten, dimonitor secara berkala, dievaluasi, serta diperbaiki apabila diperlukan.

Melalui kick off meeting ini, Politeknik Ketenagakerjaan berkomitmen menjadikan periode 2026–2030 sebagai momentum penguatan institusi, peningkatan kualitas layanan akademik dan nonakademik, pengembangan sumber daya manusia, penguatan tata kelola, serta peningkatan kontribusi perguruan tinggi bagi dunia ketenagakerjaan.

Kegiatan kemudian secara resmi dibuka oleh Direktur Politeknik Ketenagakerjaan. Diharapkan, forum ini menghasilkan program kerja yang terintegrasi, terukur, realistis, dan berdampak sebagai langkah awal menuju pencapaian institusi yang lebih baik pada tahun-tahun mendatang.

Scroll to Top