WhatsApp Image 2026 04 20 at 11.08.51

BEM Polteknaker menyatukan BEM dari 12 kampus dalam kegiatan Ruang Temu Mahasiswa

Jakarta (18/04) — BEM Politeknik Ketenagakerjaan menyelenggarakan kegiatan Ruang Temu Mahasiswa  politeknik dan perguruan tinggi kedinasan (PTK) se-Jabodetabek sebagai wadah diskusi, konsolidasi gagasan, serta penguatan sikap kolektif terhadap isu-isu strategis nasional yang berdampak pada dunia pendidikan. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari 12 organisasi kampus, yaitu Politeknik Keuangan Negara-STAN, Politeknik Statistika-STIS, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta I, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta III, Politeknik Enjiniring dan Pertanian Indonesia, Politeknik  Transportasi Darat Indonesia-STTD, Politeknik Negeri  Jakarta, Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi Geofisika, Politeknik Negeri Media Kreatif, Politeknik APP, Politeknik STIA LAN, serta Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi.

Kegiatan Ruang Temu Mahasiswa   politeknik dan perguruan tinggi kedinasan (PTK) se-Jabodetabek resmi dibuka melalui kata sambutan dari Faisal Rizza S.H.,M.H yang menyampaikan bahwa kegiatan ruang temu baiknya tidak hanya untuk silaturahmi, tetapi juga menekankan kerja sama dengan instansi lain untuk saling bertukar aspirasi dan membahas isu terkait yang sedang terjadi dalam perguruan tinggi.

Rangkaian kegiatan utama meliputi Focus Group Discussion (FGD) yang mengangkat isu strategis, khususnya terkait kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai respons terhadap krisis energi. Dalam forum tersebut, peserta mendiskusikan berbagai perspektif mengenai PJJ serta dampaknya terhadap kualitas pembelajaran dan aksesibilitas mahasiswa.

Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan menekankan pentingnya kebijakan yang berbasis pada kondisi riil mahasiswa, terutama untuk pendidikan vokasi yang mengutamakan pembelajaran berbasis praktik. Beberapa peserta menyoroti bahwa penerapan PJJ tidak dapat dilakukan secara seragam tanpa mempertimbangkan kesenjangan akses teknologi serta penyesuaian mata kuliah. Salah satu tamu undangan Muhammad Akbar Bayu Septiawan, Menteri Republik dan Politik BEM PKN STAN menyatakan “PJJ dapat dilakukan dengan pemilihan mata kuliah tertentu seperti mata kuliah teoritis yang tidak perlu banyak penyesuaian. Mata Kuliah praktikal harus tetap dilakukan offline agar tetap efektif.”

Selain FGD, kegiatan ini juga menghasilkan sebuah langkah konkret berupa penyusunan dan penandatanganan Surat Pernyataan Sikap Anti-Kekerasan Seksual dalam Dunia Pendidikan yang ditandatangani  oleh ke-13 perwakilan organisasi politeknik dan perguruan tinggi kedinasan. Dokumen ini menjadi bentuk komitmen bersama mahasiswa dalam menciptakan ruang belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual. Pernyataan sikap tersebut direncanakan akan dideklarasikan secara luas sebagai bagian dari gerakan kolektif mahasiswa lintas kampus.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa politeknik dan PTK se-Jabodetabek menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga subjek yang aktif dalam merumuskan solusi atas tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini.

Penulis: Gabriela Valencia Sibuea (Humas BEM Polteknaker)

Scroll to Top