Politeknik Ketenagakerjaan di bawah payung Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, terus berupaya melakukan pembenahan pada usianya yang belum genap lima tahun sejak berdiri pada 2017 lalu. Berbagai upaya dilakukan demi terciptanya satu perguruan tinggi vokasi yang sesuai dengan visi dan misi mencetak SDM unggul di bidang ketenagakerjaan yang siap di pasar global.

 

Hal tersebut disampaikan Plt Direktur Politeknik Ketenagakerjaan Elviandi Rusdy, S.E., M.Hum., Ph.D. Dia mengatakan, Polteknaker terus melakukan pengembagan kurikulum sesuai dengan arahan Direktorat Akademik Perguruan Tinggi Vokasi.

“Kami terus melakukan pembenahan review kurikulum, bersinergis dan sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Agar kurikulum di Polteknaker dapat super link and match dengan dunia usaha dan industri,” kata Plt. Direktur Politeknik Ketenagakerjaan pada sambutannya, di ruang Zoom Meeting, Sabtu 13 November.

Dalam proses rekrutmen mahasiswa baru, ia mengatakan, rata-rata ada 3000 calon mahasiswa baru yang mengikuti seleksi masuk Perguruan Tinggi Politeknik Ketenagakerjaan. Setiap angkatan, Polteknaker menerima 90 orang mahasiswa baru. Artinya, terang Plt. Direktur Polteknaker, probabilitas minat dan kompetisi calon mahasiswa baru, 1 berbanding 30 orang. Dan para calon mahasiswa tersebar di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, Polteknaker juga melibatkan wilayah daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar Indonesia atau Daerah 3T.

Selain mewajibkan seluruh mahasiswa mengikuti uji kompetensi, Polteknaker juga mengatur kurikulum supaya mahasiswa dapat magang, minimal satu semester baik di perusahaan swasta maupum BUMN.

“Salah satu keunggulan Polteknaker, sebelum kelulusan mahasiswa, mereka telah dibekali sertifikat Toefl untuk menunjang soft skill mereka. Dan Polteknaker di bawah Kementerian Ketenagakerjaan juga punya sedikit jejaring dengan perusahaan baik skala BUMN maupun swasta. Sehingga alhamdulillah sampai dengan saat ini lulusan yang akan lulus nantinya, dari 120 orang, ada 38 orang yang sudah terserap di dunia usaha dan dunia industri baik dalam status PKWT dan status internship,” jelas Plt. Direktur Polteknaker.

Dia mengatakan, bahwa Politeknik Ketenagakerjaan yakin dan optimis, setelah pandemi berakhir, upaya-upaya yang selama ini terus ditingkatkan dapat dimaksimalkan agar lulusan Polteknaker berikutnya, bisa maksimal di dunia usaha dan industri, dengan harapan dapat mengapai cita-cita menjadi Politeknik yang unggul, berdaya saing, dan berada dalam persaingan global.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Kelompok Kelembagaan Direktorat Kelembagaan dan SDM Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Drs. Sudarsono mengatakan, saat ini pendidikan vokasi memang menjadi prioritas Pemerintah Indonesia.

“Strategi pengembangan Politeknik Ketenagakerjaan dalam mewujudkan perguruan tinggi yang unggul tentunya tidak terlepas dari latar belakang saat ini di mana jumlah pendidikan vokasi atau jumlah mahasiswa dari pendidikan vokasi masih sangat tertinggal dari jumlah pendidikan akademik,” jelas Sudarsono.

Pada awalnya, kata Sudarsono, pemerintah ingin melakukan revitalisasi dengan cara menambah Perguruan Tinggi Negeri. Tetapi setelah ditinjau ulang dari sisi penganggaran hal itu sangat berat bagi pemerintah menambah lembaga-lembaga baru. Oleh sebab itu lanjutnya lagi, Direktorat Kelembagaan dan SDM Pendidikan Tinggi Vokasi memberikan kesempatan, pembukaan program studi di luar kampus utama dengan syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.

Sudarsono menyampaikan, Direktorat Kelembagaan dan SDM juga memiliki terobosan baru. Dalam hal peningkatan Diploma III menjadi sarjana terapan. Yang mana nantinya bisa diikuti oleh Politeknik Ketenagakerjaan dengan ketentuan minimal terakreditasi Baik Sekali.

Pada FGD tersebut Dosen Politeknik Negeri Malang, Muhammad Zenurianto Dipl.Ing HTL., M.Sc juga memberikan paparannya. Ia mengingatkan kembali para peserta FGD bahwa sesuai dengan arahan Presiden, dalam rangka menyambut bonus demografi Indonesia yang paling penting dilakukan adalah percepatan SDM yang unggul 2020 sampai 2024.

Mengingat saat ini, Indonesia termasuk penyuplai tenaga kerja paling besar se ASEAN. Sayangnya, tenaga kerja yang saat ini dikirim adalah tenaga kerja non ahli. Pemerintah berharap pada saat bonus demografi itu terjadi, tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri bukan hanya tenaga non ahli, tapi juga tenaga kerja ahli.

“Ada lima sasaran strategis yang bisa dilakukan dan perguruan tinggi dapat ambil bagian yaitu, pendidikan karakter, pemberdayaan teknologi, Investasi dan inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan derugaliasi dan debirokratisasi. Meskipun ini terlihat seperti pegawai negara yang sangat bersar di semua lini, tapi perguruan tinggi pasti bisa mangambil bagian-bagian tertentu dari kelima aspek sasaran strategis yang dicanangkan oleh pemerintah,” kata Muhammad Zenurianto.

Dia mengatakan, bagaimana ke depan Politeknik Ketenagakerjaan ini bisa menciptakan atau mewujudkan cita-citanya menjadi politeknik yang unggul salah satunya yaitu link and match bahkan link and super match.

“Pendidikan vokasi atau pendidikan tinggi vokasi pada umumnya diharapkan sudah bisa “menikahi” istilahnya sudah bisa bekerjasama dengan dunia industri dan dunia kerja secara erat terpadu, tidak hanya pada proses magang tetapi mulai dari penyusunan kurikulum,” tutupnya.

Category
Tags

Comments are closed

Translate »