Jakarta (05/02) – Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) menyelenggarakan Kuliah Umum bersama Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Afriansyah Noor, M.Si., IPU, bertempat di Aula Tridharma Polteknaker. Kegiatan ini mengangkat tema “Membangun Tenaga Kerja Unggul dan Tangguh di Era Society 5.0: People-Centered Approach untuk K3, Hubungan Industrial, dan Manajemen SDM” sebagai respons atas tantangan transformasi dunia kerja yang semakin kompleks.
Acara diawali dengan registrasi peserta, penayangan video profil Polteknaker, serta pembukaan resmi yang dihadiri jajaran pimpinan Kementerian Ketenagakerjaan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Polteknaker. Rangkaian kegiatan berlangsung sesuai agenda, termasuk laporan penyelenggaraan kegiatan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, kuliah umum, penandatanganan nota kesepahaman antara Polteknaker dengan perusahaan mitra, hingga grand launching alat pembelajaran digital Program Studi Relasi Industri, yaitu SiJatra (Simulasi Perhitungan Iuran Jaminan Sosial dan Tabungan Perumahan Rakyat, SiKalem (Simulasi Perhitungan Upah Lembur Pekerja), dan SiKasep (Sistem Kalkulator Simulasi PHK). Perusahaan mitra Polteknaker yang hadir, antara lain: PT Mitracomm Ekasarana, PT Vertika Tekno Lokacipta, PT Intrias Mandiri Sejati, PT Neural Technologies Indonesia, PT Swakarya Insan Mandiri, PT Cakrawala Edukasi Konsultan, PT Cyberindo Aditama, PT Nutrifood, dan PT Wahana Internet Nusantara.
Dalam kuliah umumnya, Wakil Menteri Ketenagakerjaan menegaskan bahwa era Society 5.0 bukan sekadar kelanjutan dari revolusi teknologi, melainkan sebuah pergeseran paradigma yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, dan sistem digital harus berfungsi sebagai alat untuk memperkuat peran manusia, bukan menggantikannya.
“Society 5.0 menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kemajuan kualitas manusia. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi manusia tetap menjadi subjek utama, bukan objek, apalagi korban dari perubahan itu sendiri,” tegas Dr. Afriansyah.
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa dunia kerja ke depan membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga tangguh secara mental dan adaptif terhadap perubahan. Tenaga kerja unggul ditandai dengan keterampilan relevan, inovasi, dan produktivitas, sementara tenaga kerja tangguh memiliki daya lenting, kesehatan mental dan fisik yang terjaga, serta kemampuan belajar sepanjang hayat.
Pendekatan people-centered menjadi fondasi utama dalam menjawab tantangan tersebut, khususnya dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hubungan industrial, dan manajemen sumber daya manusia. Pendekatan ini memastikan bahwa transformasi teknologi menghasilkan sistem kerja yang lebih adil, aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk penguatan pendidikan vokasi, Polteknaker juga melaksanakan grand launching alat pembelajaran digital Program Studi Relasi Industri sebagai bagian dari rintisan layanan digital kampus. Inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis praktik dan memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Melalui kegiatan ini, Polteknaker menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi vokasi yang tidak hanya mencetak lulusan siap kerja, tetapi juga membentuk sumber daya manusia unggul, tangguh, dan berkarakter. Sinergi antara pemerintah, pendidikan, dan industri menjadi kunci dalam membangun tenaga kerja Indonesia yang berdaya saing global namun tetap berlandaskan nilai kemanusiaan. (LR)

